Selasa, 17 November 2009
MENANGANI KETERLAMBATAN ANAK
Diposkan oleh SD Al Azhaar di 12:51 0 komentar
Label: Pendidikan Anak
Kamis, 05 November 2009
Perlunya Pendidikan Mental
Sikap yang ditumbuhakan diantaranya adalah pantang menyerah(Melewati Jaring), berani mencoba untuk belajar(Meniti Tali),perencanaan sebelum bertindak (Permainan Perang Air), Menggapai prestasi (mencapai puncak), saling memberikan memotivasi dan perhatian (melewati jalan menurun yang sangat licin), renungan dalam menggapai impian (bersama kepala Sekolah), Qiyamul lail, Kepedulian sosial (Baksos Sembako)Survival, dll..
Semoga di tahun mendatang kegiatan ini lebih bermakna dan tentunya berkesan bagi anak-anak semua...
Diposkan oleh SD Al Azhaar di 17:31 0 komentar
Label: Pendidikan Anak
Minggu, 25 Oktober 2009
Duta Tulungagung
Diposkan oleh SD Al Azhaar di 15:04 0 komentar
Label: Berita Sekolah
Rabu, 04 Maret 2009
Siasati Stres Menjelang Ujian
Apakah anak Anda stres menjelang ujian nasionaldi sekolahnya? Atau bahkan sampai dia merasa sakit? Kondisi itu seharusnya dapat ditangani sejak awal, sehingga pada saat ujian anak-anak dapat menghadapi soal-soal dengan tenang dan hasilnya pun memuaskan.
Kini kompetisi di sekolah yang semakin ketat, kurikulum dan metode pun dirasa kurang sesuai ditambah standar nilai kelulusan yang tinggi membuat sebagian anak merasa tertekan. Orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk mengelola stres mereka.
Semangat dan dukungan dapat menjadi cara yang baik, namun akan lebih efektif lagi jika orang tua dapat berstrategi membantu anak mempersiapkan diri menghadapi ujian. Tentunya strategi yang positif dan sportif, bukan strategi yang curang.
Pemerhati pendidikan Bambang Sutrisno MPd mengatakan, yang terbebani dengan ujian nasional (UN) bukan hanya siswa saja tapi juga orang tua dan guru. Tidak heran karena UN merupakan tujuan dan sasaran akhir kelulusan siswa.
"Maka tidak heran jika banyak pihak antara lain guru, sekolah,orangtua,dan siswa memilih jalan ”pintas” agar bisa sukses dalam UN," ungkapnya di seminar seminar ”Ujian Menghadang, Panik Pun Datang” yang diadakan Erlangga Group di Senayan City, beberapa waktu lalu.
Keberhasilan seorang guru terukur ketika dirinya mampu membuat siswanya sukses memperoleh nilai baik saat UN. Inilah yang akhirnya melatarbelakangi berbagai tindakan curang.
Selain itu, Bambang mengatakan pengaruh UN tidak hanya itu tapi juga membuat sebagian guru merasa 'keberatan' jika harus mengajar di kelas tingkat akhir. Tanggungjawab guru menjadi seperti 'ternodai'. Guru memilih mengajar di kelas tingkat awal karena lebih nyaman dan tanpa beban.
”Semakin tingginya tingkat kecurangan yang dilakukan beberapa pihak menjadi sesuatu yang sangat memprihatinkan. Mulai membocorkan soal, memberikan kunci jawaban, sampai dengan praktik perjokian dilakukan secara berjamaah dengan melibatkan siswa,” ujar Bambang.
Bambang mengatakan, melakukan persiapan sedini mungkin dengan pendalaman materi dan latihan soal sesuai kisi-kisi soal adalah cara terbaik untuk persiapan menghadapi UN.
Bagaimana dengan orang tua di rumah? Psikolog dari Universitas Indonesia, Tika Bisono mengatakan, orang tidak perlu panik menghadapi ujian.”Dukungan orangtua dapat dengan membantu anak menyelesaikan soal-soal latihan,” pesannya pada kesempatan yang sama.
Jika orangtua tidak memberi semangat bisa mengakibatkan stres pada anak. Apalagi terhadap diri siswa yang akan menjalani UN. Tidak jarang siswa merasa UN sebagai ajang mempertaruhkan reputasi diri.
Bambang mengatakan, untuk mengantisipasi hal tersebut, maka peran orangtua dan guru di sekolah sangat dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan anak menempuh ujian. Guru dan orang tua harus mampu memotivasi dan meluruskan persepsi siswa tentang ujian nasional.
Dengan menjadi contoh yang baik tentu dapat membantu. Tunjukan pada anak bahwa anda mampu menghadapi pekerjaan rumah tangga dengan baik. Tunjukan sikap positif saat menghadapi tantangan tersebut. Sebagai guru bekali siswa dengan pengetahuan yang cukup agar siswa merasa lebih siap menghadapi soal-soal yang akan diujikan.
Tanggapan positif juga bisa membantu anak tenang menghadapi UN. Ucapan akan sangat berpengaruh, untuk itu hindarilah ungkapan yang terkesan menuntut dan mengkritik. ”Menjaga kesehatan dan banyak berdoa juga sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam menghadapi ujian,” imbuh Bambang. (cr1/ri)(Republika)
Read More..
Diposkan oleh SD Al Azhaar di 13:53 0 komentar
Label: Pendidikan Anak
Bermain Warna Itu Menyenangkan
Tak salah jika ada kalimat yang mengatakan dunia anak penuh dengan warna-warni. Kamar tidur dan tempat bermain untuk anak, dipenuhi dengan warna terang dan ceria sebagai stimulasi untuk indera penglihatan.
Memang warna dapat digunakan dalam melakukan interaksi dan berbagai aktivitas menyenangkan dengan anak. Berbagai penelitian membuktikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari anak-anak menyukai warna dan bereaksi terhadapnya.
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa warna dapat memengaruhi suasana hati serta persepsi terhadap ukuran, suhu dan atmosfer. Satu yang mungkin belum banyak kita sadari, warna dapat digunakan untuk mendekatkan hubungan ibu dan anak melalui kegiatan bermain.
Konsep bermain menjadi penting artinya untuk mendekatkan hubungan lebih intensif antara ibu dan anak. Saat ini, banyak para ibu yang memiliki peran ganda sebagai wanita bekerja. Akibatnya, waktu para ibu untuk anak-anaknya semakin berkurang.
Menurut dra. Mayke S. Tedjasaputra M.Si, Psikolog dan Playtherapist, pendekatan warna untuk membangun ikatan batin dengan anak memang terbilang unik dan jarang digali para ibu, namun yang terpenting adalah bagaimana aktivitas itu berlangsung dengan menyenangkan.
Untuk anak balita, lanjutnya, dapat dipergunakan warna-warna dasar yaitu merah, kuning dan biru. Alasannya, warna tersebut lebih mudah dikenali sehingga dapat lebih mudah dipersepsikan oleh anak.
Menurut Mayke, mulai usia dua tahun anak dapat diajak main warna. Setelah anak mengenali warna dasar, maka dapat ditingkatkan pengetahuan anak ke warna sekunder, tersier dan seterusnya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mendekatkan diri dengan anak menggunakan warna.
Ajaklah si kecil menyanyikan lagu tentang balonku, yang dapat memperkenalkan warna sekaligus mengajar berhitung. Selain itu, lagu pelangi juga dapat diajarkan kepada anak untuk mengenal warna.
Ada banyak kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan untuk memperkenalkan warna, misalnya menyusun pakaian di lemari berdasarkan warna, tebak warna pada benda-benda yang dijumpai dalam perjalanan, mengajarkan anak memakai pakaian dengan warna dan model yang senada, hingga menyesuaikan cat dinding kamar anak sesuai dengan warna favoritnya.
Lebih lanjut, Mayke menambahkan warna juga dapat memberikan arti berbeda dan mencerminkan emosi seorang anak. Misalnya, anak yang sedang marah cenderung suka menggunakan warna merah, sementara hitam atau kelabu kerap digunakan untuk melukiskan suasana hati yang murung.
Pada kondisi ini, ibu juga dapat menggunakan trik warna untuk mendekatkan diri dengan anak. "Untuk memperbaiki mood anak, ibu dapat menggunakan warna-warna lembut untuk menenangkan perasaan anak. Namun, yang paling penting adalah bagaimana si ibu memperlakukan anak. Ibu dapat membujuk anak, jangan membentak atau memarahinya," tambahnya.
Bisa juga ibu dan anak mengenakan pakaian dengan warna yang sama saat rekreasi. Hal itu akan mempererat sekaligus mendekatkan hubungan. (ri)(Republika)
Read More..
Diposkan oleh SD Al Azhaar di 13:48 0 komentar
Label: Pendidikan Anak
Memuji, Baik atau Buruk?
Orangtua dan pengajar, kerap kali menggunakan pujian untuk mendorong minat anak atau siswanya. Namun, sadarkan Anda, pujian yang terlalu sering dilontarkan pada anak justru bisa berdampak buruk?
Konsultan pendidikan High/Scope Foundation USA, Julie Wigton mengatakan, anak yang sering diberikan pujian akan tumbuh menjadi seorang yang "gila" akan pujian atau praise junkies.
"Pujian yang sering dilontarkan pada anak akan membuat anak menjadi tidak berkembang, tidak kreatif karena apa yang mereka kerjakan hanya untuk mendapatkan pujian atau melakukannya demi seseorang yang memberikan pujian," paparnya di Jakarta, Rabu (21/1).
Seringkali seorang guru di dalam kelas berkata, "Bagus sekali warna hijau untuk rumput yang kamu gambar". Menurut Julie ungkapan tersebut justru akan mematikan kreativitas anak itu atau anak yang lainnya, karena tidak mustahil yang lain pun akan "Bu, rumput aku juga hijau" atau "aku juga mewarnai rumput dengan warna hijau".
Hal itu dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian dari sang guru, sebelumnya telah memberikan pujian pada anak yang mewarnai rumput dengan warna hijau.
Dari sisi anak, pujian yang diberikan akan membuat anak mengulangi hal yang sama yang dianggap bagus oleh guru. Sehingga anak tidak berani untuk mencoba hal yang lain dan baru karena khawatir tidak akan mendapat pujian lagi.
"Yang terpenting adalah bagaimana anak mengekspresikan ide mereka. Bukan penilaian yang diberikan guru," ungkap Julie.
Dampak negatif dari pujian adalah anak menjadi tergantung pada duru, orang tua atau dewasa lainnya.
"Anak jadi selalu meminta penilaian pada orang dewasa, apakah gambar saya bagus, dengan kata lain apakah gambar saya sudah sesuai dengan keinginan ibu? padahal kreatifitas anak tidak boleh dibatasi," papar Antarina S.F Amir, Ketua High/Scope Indonesia.
Antarina menambahkan, dengan adanya pujian maka anak cenderung tidak mampu untuk memberikan penilaian sendiri terhadap karyanya. Mereka tidak bisa berkata atau menilai apapun karena penilaian sudah ada di tangan guru atau orang tua.
Dampak yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika penilaian guru terhadap karya anak dengan sebuah ungkapan, maka hal tersebut akan menciptakan sekolah pabrik.
"Guru berkata, 'bagus', 'pintar', 'perkerjaan yang baik sekali' terhadap satu anak maka tidak dapat dipungkiri anak lainnya akan berlaku sama karena anak cenderung takut mengambil resiko berbeda, takut tidak mendapat 'bintang' dari guru," ungkap Antarina.
Penelitian yang dilakukan High/Scope Foundation, karya anak yang dibebaskan dalam berkreasi hasilnya lebih baik daripada mereka yang mealakukannya untuk mendapatkan pujian.
Pujian memang bukan sesuatu yang haram, justru baik untuk menghargai hasil kerja anak namun yang terpenting dapat mendukung anak untuk menjadi lebih baik. Strategi yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong anak untuk bisa menggambarkan usaha, ide dan karya mereka.
Gunakan ungkapan yang menyatakan bahwa karya anak itu bagus atau benar dengan ungkapan yang spesifik bukan dengan penghakiman bagus, baik atau benar.
"Jika terbiasa dengan berkata, 'Bagus, kamu memberi warna hijau untuk rumpu, cobalah untuk merubah dengan 'ceritakan bagaimana kamu bisa merwarnainya? Dengan begitu anak akan berani untuk menceritakan kenapa rumput berwarna hijau atau dapat memberi warna lain sesuai dengan imajinasi dan kreatifitas mereka," papar Julie.
Bagus atau buruk pekerjaan anak berilah dorongan padanya, bukan pujian atau celaan. dengan begitu anak dapat bisa menghargai pekerjaannya sendiri. Selain itu anak juga dapat berkembang sesuai dengan usianya.
Jika orangtua dan guru tidak ingin generasi muda Indonesia tercetak dengan 'cetakan' yang sama, maka bisa memulail dari sekarang untuk melahirkan generasi Indonesia yang mandiri dan kreatif dengan pujian yang dapat memotivasi. (cr1/ri)[Republika]
Read More..
Diposkan oleh SD Al Azhaar di 13:41 0 komentar
Label: Pendidikan Anak
Bila Anak Sulit Diam dan Fokus
Orang tua kerap tertekan ketika menerima surat dari sekolah menyatakan jika anak mereka ''tak mau mendengarkan guru'' atau '' sulit dikendailkan dan menyebabkan masalah". Satu alasan paling masuk akal untuk jenis perilaku ini adalah Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Meski anak dengan ADHS ingin menjadi siswa yang baik, perilaku impulsif mereka dan ketakmampuan menaruh perhatian pada tempatnya akan mempengaruhi proses belajar di kelas. Guru, orang tua, dan bahkan teman memahami, jika si anak memiliki ''selip perilaku'' atau "berbeda", hanya saja mereka tak mampu mengartikulasikan dengan tepat apa yang salah.
Gejala hiperaktif dalam ADHD bisa jadi termasuk berlarian, atau memanjat berlebihan pada anak kecil, atau perilaku menunjukkan sulit lelah dan nervous untuk anak lebih tua. Tentu itu sangat kontras bila dibanding aktivitas setinggi apapun anak normal. Hiperaktifitas pada intinya adalah perilaku minim terorganisir, tak menentu, dan tanpa tujuan tertentu. ADHD cenderung menimpa pada anak lelaki ketimbang perempuan dengan rasio sepuluh banding satu.
Seorang anak dengan ADHD biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti susah mengorganisasi dan memperlihatkan sikap ia tidak mendengar instruksi, fokus mudah terpecah, ceroboh, kerap melakukan kesalahan impulsif, sering dipanggil di dalam kelas, susah menunggu gilirannya bila dalam situasi kelompok, gagal mengikuti permintaan orang tua, tak mampu memainkan permainan selama yang dimainkan anak seusianya.
Tanpa tindakan dan terapi yang tepat, anak mungkin akan gagal dalam sekolah, dan teman-teman pun akan kesulitan karena si anak kurang dalam hal kerjasama dan melakukan aktivitas sosial. Begitupun soal jati diri, si anak lebih banyak memiliki kegagalan daripada sukses yang mengundang kritik dari keluarga dan guru yang tidak mengenali masalah kesehatannya.
Jika itu terjadi pada anak anda, jangan segan untuk membawanya ke ahli atau psikiatri tumbuh kembang anak. Itu bukan berarti anak anda memiliki kelainan mental. Jangan merasa minder dan tertekan, sebab bila itu dirasakan sang anak, ia akan merasa lebih tersudut dan lebih tertekan lagi.
Memang, kadang anak dengan sindrom ADHD diikuti dengan tingkat kecerdasan yang rendah, tapi itu tak berlaku untuk semua penderita ADHD. Seorang anak dengan ADHD pun masih memiliki peluang tak kalahbesar dengan anak normal. Michael Phelps, perenang internasional Amerika Serikat adalah salah satu contoh penderita ADHD. Peraih 14 medali emas Olimpiade Beijing ini mampu mengatasi kekurangannya menjadi kelebihan. Begitu pula acara TV , Extreem Makeover, Home Edition, digagas oleh, Ty Pennington, seorang penderita ADHD yang mampu mengubah kekurangan menjadi kelebihan.
Riset terhadap ADHD telah banyak didokumentasikan, dan pengobatan akan sangat membantu. Dengan bertemu dengan ahli tumbuh kembang orang tua dapat belajar bagaimana bisa mengatasi permasalahan dengan anak mereka. Tentu terapi menyeluruh dan evaluasi terus-menerus tak boleh lepas dari dukungan lingkungan sekitar, juga para guru. Lebih dari itu orang tua harus percaya dan meyakini bila sang anak mampu mengatasi kekurangannya./parent.net/additudemag/kimink.ppn/it
Read More..
Diposkan oleh SD Al Azhaar di 13:31 0 komentar
Label: Pendidikan Anak









