Kamis, 05 November 2009

Perlunya Pendidikan Mental



Pada bulan Oktober 2009, yang telah lalu kelas 5 SD Islam Al Azhaar , kembali ke alam (Out Bound : Wilayah Waduk Wonorejo :Tulungagung) dalam upaya belajar kepadanya.
Ternyata sangat besar pengaruhnya bagi perubahan mental anak :
kegiatan ini bertujuan mempersiapkan mental anak-anak kelas 5 guna persiapan untuk menuju ke kelas 6.
Sikap yang ditumbuhakan diantaranya adalah pantang menyerah(Melewati Jaring), berani mencoba untuk belajar(Meniti Tali),perencanaan sebelum bertindak (Permainan Perang Air), Menggapai prestasi (mencapai puncak), saling memberikan memotivasi dan perhatian  (melewati jalan menurun yang sangat licin), renungan dalam menggapai impian (bersama kepala Sekolah), Qiyamul lail, Kepedulian sosial (Baksos Sembako)Survival, dll..
Semoga di tahun mendatang kegiatan ini lebih bermakna dan tentunya berkesan bagi anak-anak semua...

Read More..

Mengatasi keterlambatan Santri

- Pintu gerbang dikunci pukul 07.00 dan dibuka kembali pukul 07.30
- Sanksi bagi yang terlambat berupa membuat karya, dan pelatihan Baris-berbaris.
- Pemberitahuan kepada wali santri untuk hadir di sekolah terkait, seringnya terlambat putra-putrinya.
Read More..

Read More..

Minggu, 25 Oktober 2009

Duta Tulungagung


Assalamu'aikum Warokhmatullohi Wabarokatuhu.
Mohon doa restunya, untuk Ananda Ramadhan Amal Fikri bin H. Widodo Prasetyo, kelas 5C, biasa disapa Rama.
Tempat lahir : Trenggalek
Tanggal        : 1 Januari 1999
akan menjadi duta untuk Kabupaten Tulungagung, bersama kawan pramuka yang lain, dalam rangka mengikuti kegiatan Jambore Pramuka Asia Pasifik di Filipina, pada akhir Desember 2009 sampai awal Januari 2010.
untuk itu sejak bulan September kemarin, tiap pekan 3 kali, ia menggembleng diri di Balai Sanggar Bhakti Pramuka Kota Tulungagung, bersama Kakak-kakak yang sudah profesional dalam membina pramuka.
Ternyata syarat-syarat untuk menjadi duta Pramuka ke Filipina tidak mudah, diantaranya harus bisa percakapan bahasa Internasional .....
untuk itu, adik-adik yang lain, jika ingin seperti teman kamu yang satu ini, kalian harus rajin belajar, harus bisa berbicara, menulis dengan bahasa Inggris? Tahun depan....giliran adik-adik....ayo persiapkan diri?
Dan yang menarik?acara di Jambore di Filipina ini sekaligus sebagi hadiah peringatan kelahirannya yang ke 11...Selamat, Semangat, untuk Ananda Rama?? selalu tingkatkan  Rajin Beribadah, Rajin Belajar, Berbahkti kepada Orang tua, Ustadz dan Ustadzah, serta sayangi teman....


Read More..

Rabu, 04 Maret 2009

Siasati Stres Menjelang Ujian

Apakah anak Anda stres menjelang ujian nasionaldi sekolahnya? Atau bahkan sampai dia merasa sakit? Kondisi itu seharusnya dapat ditangani sejak awal, sehingga pada saat ujian anak-anak dapat menghadapi soal-soal dengan tenang dan hasilnya pun memuaskan.

Kini kompetisi di sekolah yang semakin ketat, kurikulum dan metode pun dirasa kurang sesuai ditambah standar nilai kelulusan yang tinggi membuat sebagian anak merasa tertekan. Orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk mengelola stres mereka.

Semangat dan dukungan dapat menjadi cara yang baik, namun akan lebih efektif lagi jika orang tua dapat berstrategi membantu anak mempersiapkan diri menghadapi ujian. Tentunya strategi yang positif dan sportif, bukan strategi yang curang.

Pemerhati pendidikan Bambang Sutrisno MPd mengatakan, yang terbebani dengan ujian nasional (UN) bukan hanya siswa saja tapi juga orang tua dan guru. Tidak heran karena UN merupakan tujuan dan sasaran akhir kelulusan siswa.

"Maka tidak heran jika banyak pihak antara lain guru, sekolah,orangtua,dan siswa memilih jalan ”pintas” agar bisa sukses dalam UN," ungkapnya di seminar seminar ”Ujian Menghadang, Panik Pun Datang” yang diadakan Erlangga Group di Senayan City, beberapa waktu lalu.

Keberhasilan seorang guru terukur ketika dirinya mampu membuat siswanya sukses memperoleh nilai baik saat UN. Inilah yang akhirnya melatarbelakangi berbagai tindakan curang.

Selain itu, Bambang mengatakan pengaruh UN tidak hanya itu tapi juga membuat sebagian guru merasa 'keberatan' jika harus mengajar di kelas tingkat akhir. Tanggungjawab guru menjadi seperti 'ternodai'. Guru memilih mengajar di kelas tingkat awal karena lebih nyaman dan tanpa beban.

”Semakin tingginya tingkat kecurangan yang dilakukan beberapa pihak menjadi sesuatu yang sangat memprihatinkan. Mulai membocorkan soal, memberikan kunci jawaban, sampai dengan praktik perjokian dilakukan secara berjamaah dengan melibatkan siswa,” ujar Bambang.

Bambang mengatakan, melakukan persiapan sedini mungkin dengan pendalaman materi dan latihan soal sesuai kisi-kisi soal adalah cara terbaik untuk persiapan menghadapi UN.

Bagaimana dengan orang tua di rumah? Psikolog dari Universitas Indonesia, Tika Bisono mengatakan, orang tidak perlu panik menghadapi ujian.”Dukungan orangtua dapat dengan membantu anak menyelesaikan soal-soal latihan,” pesannya pada kesempatan yang sama.

Jika orangtua tidak memberi semangat bisa mengakibatkan stres pada anak. Apalagi terhadap diri siswa yang akan menjalani UN. Tidak jarang siswa merasa UN sebagai ajang mempertaruhkan reputasi diri.

Bambang mengatakan, untuk mengantisipasi hal tersebut, maka peran orangtua dan guru di sekolah sangat dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan anak menempuh ujian. Guru dan orang tua harus mampu memotivasi dan meluruskan persepsi siswa tentang ujian nasional.

Dengan menjadi contoh yang baik tentu dapat membantu. Tunjukan pada anak bahwa anda mampu menghadapi pekerjaan rumah tangga dengan baik. Tunjukan sikap positif saat menghadapi tantangan tersebut. Sebagai guru bekali siswa dengan pengetahuan yang cukup agar siswa merasa lebih siap menghadapi soal-soal yang akan diujikan.

Tanggapan positif juga bisa membantu anak tenang menghadapi UN. Ucapan akan sangat berpengaruh, untuk itu hindarilah ungkapan yang terkesan menuntut dan mengkritik. ”Menjaga kesehatan dan banyak berdoa juga sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam menghadapi ujian,” imbuh Bambang. (cr1/ri)(Republika)



Read More..

Bermain Warna Itu Menyenangkan

Tak salah jika ada kalimat yang mengatakan dunia anak penuh dengan warna-warni. Kamar tidur dan tempat bermain untuk anak, dipenuhi dengan warna terang dan ceria sebagai stimulasi untuk indera penglihatan.

Memang warna dapat digunakan dalam melakukan interaksi dan berbagai aktivitas menyenangkan dengan anak. Berbagai penelitian membuktikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari anak-anak menyukai warna dan bereaksi terhadapnya.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa warna dapat memengaruhi suasana hati serta persepsi terhadap ukuran, suhu dan atmosfer. Satu yang mungkin belum banyak kita sadari, warna dapat digunakan untuk mendekatkan hubungan ibu dan anak melalui kegiatan bermain.

Konsep bermain menjadi penting artinya untuk mendekatkan hubungan lebih intensif antara ibu dan anak. Saat ini, banyak para ibu yang memiliki peran ganda sebagai wanita bekerja. Akibatnya, waktu para ibu untuk anak-anaknya semakin berkurang.

Menurut dra. Mayke S. Tedjasaputra M.Si, Psikolog dan Playtherapist, pendekatan warna untuk membangun ikatan batin dengan anak memang terbilang unik dan jarang digali para ibu, namun yang terpenting adalah bagaimana aktivitas itu berlangsung dengan menyenangkan.

Untuk anak balita, lanjutnya, dapat dipergunakan warna-warna dasar yaitu merah, kuning dan biru. Alasannya, warna tersebut lebih mudah dikenali sehingga dapat lebih mudah dipersepsikan oleh anak.

Menurut Mayke, mulai usia dua tahun anak dapat diajak main warna. Setelah anak mengenali warna dasar, maka dapat ditingkatkan pengetahuan anak ke warna sekunder, tersier dan seterusnya.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mendekatkan diri dengan anak menggunakan warna.

Ajaklah si kecil menyanyikan lagu tentang balonku, yang dapat memperkenalkan warna sekaligus mengajar berhitung. Selain itu, lagu pelangi juga dapat diajarkan kepada anak untuk mengenal warna.

Ada banyak kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan untuk memperkenalkan warna, misalnya menyusun pakaian di lemari berdasarkan warna, tebak warna pada benda-benda yang dijumpai dalam perjalanan, mengajarkan anak memakai pakaian dengan warna dan model yang senada, hingga menyesuaikan cat dinding kamar anak sesuai dengan warna favoritnya.

Lebih lanjut, Mayke menambahkan warna juga dapat memberikan arti berbeda dan mencerminkan emosi seorang anak. Misalnya, anak yang sedang marah cenderung suka menggunakan warna merah, sementara hitam atau kelabu kerap digunakan untuk melukiskan suasana hati yang murung.

Pada kondisi ini, ibu juga dapat menggunakan trik warna untuk mendekatkan diri dengan anak. "Untuk memperbaiki mood anak, ibu dapat menggunakan warna-warna lembut untuk menenangkan perasaan anak. Namun, yang paling penting adalah bagaimana si ibu memperlakukan anak. Ibu dapat membujuk anak, jangan membentak atau memarahinya," tambahnya.

Bisa juga ibu dan anak mengenakan pakaian dengan warna yang sama saat rekreasi. Hal itu akan mempererat sekaligus mendekatkan hubungan. (ri)(Republika)




Read More..

Memuji, Baik atau Buruk?

Orangtua dan pengajar, kerap kali menggunakan pujian untuk mendorong minat anak atau siswanya. Namun, sadarkan Anda, pujian yang terlalu sering dilontarkan pada anak justru bisa berdampak buruk?

Konsultan pendidikan High/Scope Foundation USA, Julie Wigton mengatakan, anak yang sering diberikan pujian akan tumbuh menjadi seorang yang "gila" akan pujian atau praise junkies.

"Pujian yang sering dilontarkan pada anak akan membuat anak menjadi tidak berkembang, tidak kreatif karena apa yang mereka kerjakan hanya untuk mendapatkan pujian atau melakukannya demi seseorang yang memberikan pujian," paparnya di Jakarta, Rabu (21/1).

Seringkali seorang guru di dalam kelas berkata, "Bagus sekali warna hijau untuk rumput yang kamu gambar". Menurut Julie ungkapan tersebut justru akan mematikan kreativitas anak itu atau anak yang lainnya, karena tidak mustahil yang lain pun akan "Bu, rumput aku juga hijau" atau "aku juga mewarnai rumput dengan warna hijau".

Hal itu dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian dari sang guru, sebelumnya telah memberikan pujian pada anak yang mewarnai rumput dengan warna hijau.

Dari sisi anak, pujian yang diberikan akan membuat anak mengulangi hal yang sama yang dianggap bagus oleh guru. Sehingga anak tidak berani untuk mencoba hal yang lain dan baru karena khawatir tidak akan mendapat pujian lagi.

"Yang terpenting adalah bagaimana anak mengekspresikan ide mereka. Bukan penilaian yang diberikan guru," ungkap Julie.

Dampak negatif dari pujian adalah anak menjadi tergantung pada duru, orang tua atau dewasa lainnya.

"Anak jadi selalu meminta penilaian pada orang dewasa, apakah gambar saya bagus, dengan kata lain apakah gambar saya sudah sesuai dengan keinginan ibu? padahal kreatifitas anak tidak boleh dibatasi," papar Antarina S.F Amir, Ketua High/Scope Indonesia.

Antarina menambahkan, dengan adanya pujian maka anak cenderung tidak mampu untuk memberikan penilaian sendiri terhadap karyanya. Mereka tidak bisa berkata atau menilai apapun karena penilaian sudah ada di tangan guru atau orang tua.

Dampak yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika penilaian guru terhadap karya anak dengan sebuah ungkapan, maka hal tersebut akan menciptakan sekolah pabrik.

"Guru berkata, 'bagus', 'pintar', 'perkerjaan yang baik sekali' terhadap satu anak maka tidak dapat dipungkiri anak lainnya akan berlaku sama karena anak cenderung takut mengambil resiko berbeda, takut tidak mendapat 'bintang' dari guru," ungkap Antarina.

Penelitian yang dilakukan High/Scope Foundation, karya anak yang dibebaskan dalam berkreasi hasilnya lebih baik daripada mereka yang mealakukannya untuk mendapatkan pujian.

Pujian memang bukan sesuatu yang haram, justru baik untuk menghargai hasil kerja anak namun yang terpenting dapat mendukung anak untuk menjadi lebih baik. Strategi yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong anak untuk bisa menggambarkan usaha, ide dan karya mereka.

Gunakan ungkapan yang menyatakan bahwa karya anak itu bagus atau benar dengan ungkapan yang spesifik bukan dengan penghakiman bagus, baik atau benar.

"Jika terbiasa dengan berkata, 'Bagus, kamu memberi warna hijau untuk rumpu, cobalah untuk merubah dengan 'ceritakan bagaimana kamu bisa merwarnainya? Dengan begitu anak akan berani untuk menceritakan kenapa rumput berwarna hijau atau dapat memberi warna lain sesuai dengan imajinasi dan kreatifitas mereka," papar Julie.

Bagus atau buruk pekerjaan anak berilah dorongan padanya, bukan pujian atau celaan. dengan begitu anak dapat bisa menghargai pekerjaannya sendiri. Selain itu anak juga dapat berkembang sesuai dengan usianya.

Jika orangtua dan guru tidak ingin generasi muda Indonesia tercetak dengan 'cetakan' yang sama, maka bisa memulail dari sekarang untuk melahirkan generasi Indonesia yang mandiri dan kreatif dengan pujian yang dapat memotivasi. (cr1/ri)[Republika]




Read More..